Lompat ke isi utama

Berita

Jumat Sehati Bawaslu Melalui Tausiyah Makna Mendalam Keikhlasan

Jumat Sehati I

Tangkapan layar kegiatan Jumat Sehati Bawaslu Kabupaten Bandung Barat melalui Tausiyah dengan tema ‘keikhlasan’, Jum’at (31/7/2026).

Bandung Barat, Badan Pengawas Pemilihan Umum - Kesibukan untuk menjalankan tugas pengawasan demokrasi tidak hanya membutuhkan ketelitian dan profesionalisme, tetapi juga keteguhan hati. Berangkat dari semangat tersebut, kegiatan Jumat Sehati Bawaslu Kabupaten Bandung Barat kali ini diisi dengan Tausiyah Pembinaan Mental Spiritual, Jumat (31/7/2026).

Koordinator Sekretariat Bawaslu Kabupaten Bandung Barat, Rizal Fadilah, dalam sambutannya mengajak seluruh jajaran memanfaatkan momentum Jumat Sehati sebagai waktu untuk merenungkan kembali makna kehidupan di tengah aktivitas-aktivitas pekerjaan.

"Melalui agenda Jumat Sehati dan Jumpa Berlian yang diinisiasi Bawaslu RI, kita diajak sejenak berhenti dari rutinitas untuk merefleksikan hal-hal yang lebih mendasar. Bukan hanya memahami urusan dunia, tetapi juga memperkuat bekal batin sebagai penopang dalam menjalankan tugas," ujarnya.


Sementara itu, Ketua Bawaslu Kabupaten Bandung Barat, Ridwan Raharja, berharap kegiatan tersebut dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai wadah memperkuat kebersamaan sekaligus meningkatkan pemahaman di lingkungan Bawaslu.

“ Dengan adanya Jum’at Sehati semoga bisa menjadi ikhtiar bagi Bawaslu Kabupaten Bandung Barat dalam rangka memperkuat hati, meneguhkan integritas dalam menjalankan amanah kelembagaan,” ujar Ridwan. 

Lebih lanjut, beliau berpesan semoga Bawaslu Kabupaten Bandung Barat semakin kompak, semakin tenang dalam bekerja, dan semakin kuat dalam menjaga amanah pengawasan demokrasi.
Pada kesempatan tersebut, tausiyah disampaikan oleh Habibulloj dengan tema pentingnya keikhlasan dalam setiap amal. Ia menjelaskan bahwa ikhlas merupakan upaya memurnikan niat semata-mata karena Allah SWT tanpa mengharapkan pujian ataupun balasan dari manusia.

Menurutnya, keikhlasan menjadi syarat diterimanya setiap amal sekaligus benteng dari godaan yang dapat mengurangi nilai ibadah. Orang yang ikhlas akan tetap berbuat baik dalam berbagai keadaan, tidak larut dalam pujian, tidak goyah oleh celaan, serta tidak mengungkit kebaikan yang pernah dilakukan.
 

Penulis: Yuni Rusmiati

Foto: M. Saepurrohman